![]() |
Sumber foto: Okezone |
Cirebon, LPM FatsOeN - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok hingga 7,1 persen pada perdagangan, Selasa (18/3). Hal ini memicu penghentian sementara (trading halt) oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) selama 30 menit. Setelah perdagangan dibuka kembali, IHSG ditutup melemah 3,84 persen atau turun 248,56 poin ke level 6.223,39.
Koreksi tajam ini menjadi salah satu yang terdalam sejak pandemi COVID-19 pada 2020 dan memicu aksi jual besar-besaran oleh investor asing.
Penurunan IHSG kali ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, terutama kekhawatiran terhadap kondisi fiskal dalam negeri. Laporan Kompas menyebutkan bahwa defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) melebar hingga Rp31,2 triliun per Februari 2025, berbanding terbalik dengan surplus Rp22,8 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kondisi ini menimbulkan kecemasan di kalangan investor terkait stabilitas ekonomi ke depan.
Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, menilai bahwa hasil APBN Februari yang buruk dan prospek fiskal yang berat di 2025 menjadi faktor utama yang mempengaruhi IHSG.
"Ada beberapa isu penyebab IHSG melemah. Pertama, hasil APBN Februari yang buruk dan outlook fiskal yang berat di 2025," ujarnya.
Selain itu, rencana pemerintah meluncurkan program makanan gratis nasional dengan anggaran mencapai 28 miliar USD per tahun semakin menambah kekhawatiran investor. Program ini dinilai dapat membebani APBN secara signifikan dan menimbulkan ketidakpastian terhadap keberlanjutan kebijakan fiskal pemerintah.
Di sisi lain, rumor mengenai pengunduran diri Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati turut memperburuk kondisi pasar. Kabar ini memicu spekulasi di kalangan investor karena Sri Mulyani selama ini dianggap sebagai figur kunci dalam menjaga stabilitas ekonomi Indonesia. Namun, dalam konferensi pers di Gedung DJP Jakarta, ia membantah rumor tersebut. "Saya tegaskan, saya ada di sini, berdiri, dan tidak mundur," ujar Sri Mulyani.
Untuk meredam gejolak yang terjadi, pemerintah dan otoritas keuangan bergerak cepat. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengizinkan emiten melakukan buyback saham tanpa perlu persetujuan pemegang saham sebagai langkah stabilisasi di pasar modal. Sementara itu, Bank Indonesia (BI) melakukan intervensi di pasar valuta asing guna menahan pelemahan rupiah yang terjadi seiring dengan arus keluar dana asing dari pasar saham.
Penurunan IHSG yang signifikan ini mencerminkan kombinasi risiko fiskal, isu politik, dan sentimen negatif investor asing. Dengan intervensi dari OJK dan BI, pasar diharapkan dapat kembali stabil dalam beberapa pekan ke depan. Investor disarankan untuk tetap berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi dan terus memantau kebijakan ekonomi serta perkembangan pasar global.
Penulis: Ikhsan Tiaz Setiawan
Editor: Muhamad Hijar Ardiansah