![]() |
Sumber foto: Dok. UKM LPM FatsOeN |
Cirebon, LPM FatsOeN - Langit sore tak secerah biasanya. Gumpalan awan kelabu terpancar di Pesisir Utara Cirebon. Keadaan itu tak menjadi peredup untuk insan manusia beraktivitas.
Di kejauhan, seorang anak melangkah pelan bersama temannya menghampiri kerumunan orang. Matanya tertarik pada jejeran buku yang tersusun rapi di atas tikar.
"Hai, Adek..." sapa hangat salah seorang yang di sana.
Anak-anak meresponnya dengan senyum malu. Kemudian ia mengajak mereka dengan bercerita. Perlahan tawa kecil sesekali terdengar saat mereka menemukan hal yang menarik.
Tak berselang lama, anak-anak semakin ramai menyusul mereka. Kemudian mereka berbaris dan membentuk rangkaian panjang seperti gerbong kereta yang siap melaju. Suara tepukan tangan disertai teriakan riang menciptakan kebahagiaan tak ternilai.
"Tuuuttt tuutt... naik kereta api!" seru mereka sambil bernyanyi.
Sesekali, salah satu gerbong terlepas, memicu teriakan histeris yang segera berubah menjadi tawa lepas.
Setelahnya, anak-anak duduk mendengarkan cerita dengan antusias. Seorang story teller membuka cerita dengan menunjuk buku. Terlihat gambar sampul bertulis *"Princess Rahmania"*. Anak-anak mendengar itu seketika berbicara, "Wah, Kak, itu seperti ada apa Asmaul Husna, yaa?"
Anak-anak mendengarkan dengan penuh semangat dan senyum sumringah, karena pembawaan story teller menggunakan bahasa yang santai dan juga ekspresif membuat cerita semakin hidup.
Tak terasa, langit mulai menggelap. Namun, cahaya kebahagiaan tetap bersinar di wajah mereka. Bahkan, langit abu pun tak mampu meredupkan cahaya itu—cahaya kebahagiaan yang tak ternilai.
Penulis: Abirotun Nabilah
Editor: Muhamad Hijar Ardiansah